PEMANFAATAN LINGKUNGAN OLEH MASYARAKAT PENDUKUNG SITUS DI BELITUNG BAGIAN SELATAN

Aryandini Novita, Dadang Hikmah Purnama

Abstract


Tulisan ini membahas tentang hubungan masyarakat pendukung situs dengan lingkungannya di wilayah Belitung bagian selatan berdasarkan hasil penelitian Balai Arkeologi Sumatera Selatan pada tahun 2018. Dalam upaya mencapai tujuan tulisan, penulis menggunakan pendekatan lanskap budaya maritim di mana pengetahuan sejarah dan etnografi diintegrasikan dengan tinggalan-tingalan arkeologi. Hasil penelitian menunjukkan interaksi masyarakat di lokasi penelitian dengan lingkungannya dilakukan dengan cara memanfaatkan sumber daya yang berasal dari dua lingkungan yang berbeda, yaitu laut dan darat. Sumberdaya alam yang tersedia di lokasi penelitian utamanya dimanfaatkan untuk subsistensi dan kelebihan pasokan akan dijual yang hasil penjualan tersebut digunakan untuk membeli barang-barang yang tidak diproduksi oleh masyarakat setempat.


Keywords


Lingkungan; Maritim; Budaya; Etnografi

Full Text:

PDF

References


Acheson, J M. 1981. “Anthropology of Fishing.” Annual Review of Anthropology 10.

Anschuetz, Kurt F (et.al). 2001. “An Archaeology of Landscapes: Perspectives and Direction” dalam Journal of Archaeological Research 9 (2): 157–211.

Baharuddin, and Sidarto. 1995. Peta Geological Bersistem Indonesia: Lembar

Belitung Sumatra 1212, 1213, 1312, 1313 Skala 1:250.000. Bandung: Pusat Penelitian dan Pengembangan Geologi.

Cahyono, Bintang Dwita, and Mochammad Nadjib. 2014. “Implikasi Kendala Struktural Dan Kelangkaan Modal Terhadap Perilaku Sosial Ekonomi Nelayan.” dalam Ekonomi Dan Pembangunan Vol. 22 No. 2: 119–33.

Cooper, David E. 2015. “Archaeology, Landscape and Aesthetic.” Cogent Art and Humanities 2 (1077647) dalam https://www.cogentoa.com/ article/10.1080/23311983.2015.1077647. pdf. Diakses 1 Januari 2019.

Ford, Ben (ed.). 2011. The A rchaeology of Maritime Landscape. New York: Springer.

Sucipta, S., Waluyo, B., Setiawan, D., Suganda, A.S. Purnomo, dan H. Sriwahyuni. 2012. “Tinjauan Geologi Regional Bangka Belitung Untuk Calon Tapak Disposal Limbah Radioaktif

PLTN.” dalam Prosiding Seminar Geologi Nuklir Dan Sumber Daya Tambang, 273–86.

Iskandar, J. 2001. Manusia, Budaya, dan Lingkungan. Kajian Ekologi Manusia. Bandung: Humaniora Utama Press.

Mashyuri, ed. 1999. Pemberdayaan Nelayan Tertinggal Dalam Menghadapi Krisis Ekonomi: Telaah Terhadap Sebuah Pendekatan. Jakarta: Puslitbang Ekonomi dan Pembangunan LIPI.

Mashyuri, and Mochammad Nadjib. 2000. Pemberdayaan Nelayan Tertinggal: Sebuah Uji Model Penanganan Kemiskinan. Jakarta: Puslitbang Ekonomi dan Pembangunan LIPI.

Nadjib, Mochammad. 2013. “Kebutuhan Modal Kerja Dan Modal Investasi Dalam Kegiatan Usaha Nelaya.” In Stusi Model Lembaga Pembiayaan Usaha Rakyat

Pada Subsektor Perikanan Tangkap, edited by Mahmud Toha. Jakarta. Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia.

Scott, James C. 1996. The Moral Economy of The Peasant: Rebellion and Resistence

in Southeast Asia. New Haven: Yale University Press.

Sharer, Robert J, and Wendy Ashmore. 1979. Fundamental of Archaeology. Menlo Park. California: The Benjamin/ Cumming Publishing Company, Inc.

Taniardi, Putri Novita. 2009. “Sumbangan Antropologi dalam Penelitian Arkeologi.” dalam Papua: Jurnal Penelitian Arkeologi Papua dan Papua Barat. Vol. 1, No. 2,

hal. 25–37.

Westerdahl, Christer. 1992. “The Maritime Cultural Landscape.” dalam The International Jurnal of Nautical Archaeology, hal. 5–14.




DOI: http://dx.doi.org/10.24832/siddhayatra.v24i1.145

Copyright (c) 2019 Siddhayatra

Creative Commons License
This work is licensed under a Creative Commons Attribution-NonCommercial-ShareAlike 4.0 International License.

© Balai Arkeologi Sumatera Selatan. Siddhayatra
(e-ISSN : 2598-1056 p-ISSN : 0853-9030)
Powered by OJS.

Designed by Hafidhir Rahman.